01
Mar
10

URGENSI WAKTU SEBAGAI MODAL KESUKSESAN


Waktu merupakan  sesuatu yang selalu menjadi bahan perbincangan, bagaikan mata air yang tak pernah kering dan selalu menarik untuk menjadi bahan perbincangan, sebab memang ia adalah modal kehidupan. Kehidupan adalah kumpulan waktu yang akan berlalu tanpa kita sanggup menghentikannya, berjalan tanpa bisa dikendalikan. Kesuksesan akan jauh dan hanya menjadi angan- angan bagi manusia yang tak mampu menggunakan waktunya dengan benar. Waktu di kampus  merupakan episode/ bagian dari kehidupan kita yang akan terisi sesuai lakon kita. Terkadang ada yang mengisi waktunya di kampus untuk prestige (gengsi), menjadikan kampus sebagai ajang show sebagaimana yang banyak disaksikan di televisi. Kampus kadang jauh dari fungsinya sebagai tempat orang- orang yang ingin mengilmui bidangnya, tempat mecerahkan pemikiran, tempat para dosen mendidik, bukan sekedar mengajar apalagi mengumpulkan sen demi sen lewat proyek- proyek dan mengabaikan mahasiswanya. Kampus bukan tempatnya proyek swastanisasi, tapi tempat lahirnya para perubah nasib negeri, tempat bagi mereka yang ingin melaju untuk meraih kesuksesan dengan memanfaatkan episode hidupnya di kampus.

Kesuksesan dengan waktu sangatlah berkaitan, bagaikan 2 sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Setiap orang berhak mengisi waktunya dengan kegiatan- kegiatan yang positif atau sebaliknya, tergantung keinginannya. Namun, sejarah telah mencatat orang- orang yang sukses hanyalah mereka yang mengisi waktunya dengan upaya menuju puncak kesuksesan. Lantas bagaimana kita mengartikan kesukesan itu? Apakah seperti pola pikir masyarakat kapitalistik saat ini yang mengukur kesuksesan dari kemajuan karir atau banyaknya materi yang ia dapatkan? Ataukah seperti gambaran masyarakat feodalistik yang mengukur kesuksesan dari kedudukan dan status sosial di masyarakat. Bagi banyak orang, bahkan mungkin termasuk kita, terkadang salah kaprah dalam memaknai kesuksesan. Sukses diartikan jika telah diraih fasilitas- fasilitas duniawi yang begitu banyak, popularitas yang tinggi, kedudukan yang mentereng di tempat kerja, gaji yang tinggi, keluarga yang mapan dan sederet ukuran keberhasilan yang lainnya. Lalu bagaimana kesuksesan yang hakiki? Islam telah memberikan pencerahan tentang sukses itu sendiri, sebab kesalahan dalam memaknainya akan berdampak pada kesalahan dalam bertindak. Sukses yang hakiki dalam Islam adalah ketika seseorang mengerti misi agung dalam hidupnya, yaitu misi untuk menghambakan dirinya pada kepada Penciptanya dengan segala cara, sarana dan kemampuan yang ia miliki. Jika seseorang telah memaknai kesuksesan  dari sudut pandang Islam, serta menjiwai  apa yang ia pahami tersebut, maka ia akan memiliki prinsip, komitmen, dan keteguhan untuk memfokuskan dirinya pada aktifitas yang jelas dan berkualitas. Dengan prinsip, komitmen dan keteguhan yang ia miliki, ia tidak akan terpengaruh dengan ‘gelombang kehidupan’ karena sasarannya pasti, bukan sekedar hidup menghabiskan waktunya tanpa arah yang jelas, namun ia berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan setiap detik dalam kehidupannya demi meraih kesuksesan yang hakiki tersebut.

Orang- orang yang sukses selalu merasa waktunya begitu sedikit bila dibandingkan dengan pekerjaan yang harus dikerjakan, amanah yang harus ditunaikan dan obsesi besar yang mesti direalisasikan. Mengapa demikian? Karena mereka berlomba dengan sang waktu untuk mengukir kesuksesan hakiki. Berbeda dengan orang- orang gagal yang terkadang kebingungan tentang  apa yang mesti ia kerjakan, banyak membuang- buang waktu, banyak mengeluh, dan banyak menyalahkan keadaan tatkala ia gagal. Hal ini terjadi karena ia tidak peka terhadap sinyal- sinyal kesuksesan sehingga waktu yang sangat berharga berlalu tanpa ia sadari. Tanpa kepekaan untuk memanfaatkan waktu dengan baik, maka kesuksesan sulit untuk ditemukan, sebab waktu itu sendiri ibarat tangga menuju kesuksesan. Orang sukses dengan orang gagal waktunya sama, 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam sepekan dan seterusnya, namun yang berbeda adalah gerak langkah dan komitmennya terhadap waktu. Kalau umur kita sekarang misalkan 21 tahun dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur, maka dalam waktu 21 tahun kita telah tidur selama 7 tahun, dikurangi lagi dengan waktu makan, menonton dan aktivitas lainnya, lalu tinggal berapa waktu untuk usaha mencapai kesuksesan? Maka sangat mengherankan jika ada orang yang menghambur- hamburkan waktunya pada hal- hal yang tidak bermanfaat dan mengabaikan momentum yang ada di hadapannya.

Karakter orang sukses ialah tidak menyia- nyiakan waktu dan momentum yang bisa ia raih karena menyadari hal tersebut hanya datang sekali. Momentum  seiring dengan waktu, amat cepat berlalu dan setelah berlalu, mustahil bisa kembali menemui kita. Hanyalah manusia- manusia yang peka dan paham akan urgensi waktu  yang akan mendayagunakan  momentum itu untuk  menempa dirinya menjadi orang sukses di hadapan Allah.  Kita perlu bercermin kepada orang- orang yang ‘sukses’, yang mengukir prestasi di setiap ruang waktunya. Seperti yang telah dilakukan oleh ulama- ulama besar yang menggunakan setiap kesempatan untuk menuntut ilmu, sehingga meskipun kesempitan dan penderitaan datang, mereka tetap bisa berprestasi, bahkan dipenjara pun menjadi tetap gigih menggunakan detik demi detik dalam hidupnya. Contoh lain tentunya adalah pribadi yang mulia, Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah meraih kesuksesan dengan waktu yang relatif singkat, kesuksesan yang begitu mencengangkan kawan maupun lawannya. Tidak mengherankan jika Michael H. Hart dalam bukunya yang terkenal: The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan rangking pertama, sebagai manusia terunggul, yang paling berpengaruh sepanjang sejarah dunia. Jika kita adalah mahasiswa yang juga merindukan kesuksesan, maka semestinya kita terus berupaya mendobrak sekat- sekat kemalasan untuk berpacu dengan sang waktu, jangan sampai potensi dalam diri terkubur hanya karena ketidakpedulian terhadap waktu, padahal waktu adalah modal utama untuk meraih kesuksesan.  Wallahu a’lam bish showab-


Waktu merupakan  sesuatu yang selalu menjadi bahan perbincangan, bagaikan mata air yang tak pernah kering dan selalu menarik untuk menjadi bahan perbincangan, sebab memang ia adalah modal kehidupan. Kehidupan adalah kumpulan waktu yang akan berlalu tanpa kita sanggup menghentikannya, berjalan tanpa bisa dikendalikan. Kesuksesan akan jauh dan hanya menjadi angan- angan bagi manusia yang tak mampu menggunakan waktunya dengan benar. Waktu di kampus  merupakan episode/ bagian dari kehidupan kita yang akan terisi sesuai lakon kita. Terkadang ada yang mengisi waktunya di kampus untuk prestige (gengsi), menjadikan kampus sebagai ajang show sebagaimana yang banyak disaksikan di televisi. Kampus kadang jauh dari fungsinya sebagai tempat orang- orang yang ingin mengilmui bidangnya, tempat mecerahkan pemikiran, tempat para dosen mendidik, bukan sekedar mengajar apalagi mengumpulkan sen demi sen lewat proyek- proyek dan mengabaikan mahasiswanya. Kampus bukan tempatnya proyek swastanisasi, tapi tempat lahirnya para perubah nasib negeri, tempat bagi mereka yang ingin melaju untuk meraih kesuksesan dengan memanfaatkan episode hidupnya di kampus.

Kesuksesan dengan waktu sangatlah berkaitan, bagaikan 2 sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Setiap orang berhak mengisi waktunya dengan kegiatan- kegiatan yang positif atau sebaliknya, tergantung keinginannya. Namun, sejarah telah mencatat orang- orang yang sukses hanyalah mereka yang mengisi waktunya dengan upaya menuju puncak kesuksesan. Lantas bagaimana kita mengartikan kesukesan itu? Apakah seperti pola pikir masyarakat kapitalistik saat ini yang mengukur kesuksesan dari kemajuan karir atau banyaknya materi yang ia dapatkan? Ataukah seperti gambaran masyarakat feodalistik yang mengukur kesuksesan dari kedudukan dan status sosial di masyarakat. Bagi banyak orang, bahkan mungkin termasuk kita, terkadang salah kaprah dalam memaknai kesuksesan. Sukses diartikan jika telah diraih fasilitas- fasilitas duniawi yang begitu banyak, popularitas yang tinggi, kedudukan yang mentereng di tempat kerja, gaji yang tinggi, keluarga yang mapan dan sederet ukuran keberhasilan yang lainnya. Lalu bagaimana kesuksesan yang hakiki? Islam telah memberikan pencerahan tentang sukses itu sendiri, sebab kesalahan dalam memaknainya akan berdampak pada kesalahan dalam bertindak. Sukses yang hakiki dalam Islam adalah ketika seseorang mengerti misi agung dalam hidupnya, yaitu misi untuk menghambakan dirinya pada kepada Penciptanya dengan segala cara, sarana dan kemampuan yang ia miliki. Jika seseorang telah memaknai kesuksesan  dari sudut pandang Islam, serta menjiwai  apa yang ia pahami tersebut, maka ia akan memiliki prinsip, komitmen, dan keteguhan untuk memfokuskan dirinya pada aktifitas yang jelas dan berkualitas. Dengan prinsip, komitmen dan keteguhan yang ia miliki, ia tidak akan terpengaruh dengan ‘gelombang kehidupan’ karena sasarannya pasti, bukan sekedar hidup menghabiskan waktunya tanpa arah yang jelas, namun ia berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan setiap detik dalam kehidupannya demi meraih kesuksesan yang hakiki tersebut.

Orang- orang yang sukses selalu merasa waktunya begitu sedikit bila dibandingkan dengan pekerjaan yang harus dikerjakan, amanah yang harus ditunaikan dan obsesi besar yang mesti direalisasikan. Mengapa demikian? Karena mereka berlomba dengan sang waktu untuk mengukir kesuksesan hakiki. Berbeda dengan orang- orang gagal yang terkadang kebingungan tentang  apa yang mesti ia kerjakan, banyak membuang- buang waktu, banyak mengeluh, dan banyak menyalahkan keadaan tatkala ia gagal. Hal ini terjadi karena ia tidak peka terhadap sinyal- sinyal kesuksesan sehingga waktu yang sangat berharga berlalu tanpa ia sadari. Tanpa kepekaan untuk memanfaatkan waktu dengan baik, maka kesuksesan sulit untuk ditemukan, sebab waktu itu sendiri ibarat tangga menuju kesuksesan. Orang sukses dengan orang gagal waktunya sama, 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam sepekan dan seterusnya, namun yang berbeda adalah gerak langkah dan komitmennya terhadap waktu. Kalau umur kita sekarang misalkan 21 tahun dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur, maka dalam waktu 21 tahun kita telah tidur selama 7 tahun, dikurangi lagi dengan waktu makan, menonton dan aktivitas lainnya, lalu tinggal berapa waktu untuk usaha mencapai kesuksesan? Maka sangat mengherankan jika ada orang yang menghambur- hamburkan waktunya pada hal- hal yang tidak bermanfaat dan mengabaikan momentum yang ada di hadapannya.

Karakter orang sukses ialah tidak menyia- nyiakan waktu dan momentum yang bisa ia raih karena menyadari hal tersebut hanya datang sekali. Momentum  seiring dengan waktu, amat cepat berlalu dan setelah berlalu, mustahil bisa kembali menemui kita. Hanyalah manusia- manusia yang peka dan paham akan urgensi waktu  yang akan mendayagunakan  momentum itu untuk  menempa dirinya menjadi orang sukses di hadapan Allah.  Kita perlu bercermin kepada orang- orang yang ‘sukses’, yang mengukir prestasi di setiap ruang waktunya. Seperti yang telah dilakukan oleh ulama- ulama besar yang menggunakan setiap kesempatan untuk menuntut ilmu, sehingga meskipun kesempitan dan penderitaan datang, mereka tetap bisa berprestasi, bahkan dipenjara pun menjadi tetap gigih menggunakan detik demi detik dalam hidupnya. Contoh lain tentunya adalah pribadi yang mulia, Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah meraih kesuksesan dengan waktu yang relatif singkat, kesuksesan yang begitu mencengangkan kawan maupun lawannya. Tidak mengherankan jika Michael H. Hart dalam bukunya yang terkenal: The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan rangking pertama, sebagai manusia terunggul, yang paling berpengaruh sepanjang sejarah dunia. Jika kita adalah mahasiswa yang juga merindukan kesuksesan, maka semestinya kita terus berupaya mendobrak sekat- sekat kemalasan untuk berpacu dengan sang waktu, jangan sampai potensi dalam diri terkubur hanya karena ketidakpedulian terhadap waktu, padahal waktu adalah modal utama untuk meraih kesuksesan.  Wallahu a’lam bish showab-


0 Responses to “URGENSI WAKTU SEBAGAI MODAL KESUKSESAN”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: